Sekolah Jalanan 'Sanggar Alang-Alang' Surabaya
'Nggak terasa 16 tahun sudah
sanggar alang-alang Surabaya berdiri. Selama itu pula sebagian hidup dan
waktuku aku wakafkan untuk mendampingi mereka, anak-anak yatim & anak
dhuafa yang biasa disebut anak jalanan. Tidak terlalu penting sudah berapa puluh, berapa ratus, atau berapa ribu anak
yang pernah bernaung dan bergabung di rumah mungil yang aku bangun hanya
bermodal kasih sayang itu. Yang aku tahu mereka datang hanya sekedar belajar,
berkarya, dan berdoa untuk sama-sama menuju kehidupan yang lebih baik sebagai
bekal membangun rumah abadi yang lebih
besar dan lebih indah yaitu surga ilahi.
Rasanya sudah terlalu banyak yang
aku dapat selama mendampingi mereka. Tak hanya materi yang tak terhitung dengan
angka, bukan hanya ilmu pengetahuan berharga yang tak lagi mampu terurai
logika, namun pengalaman hidup yang tak pernah habis itu sangat luar biasa.
Alhamdulillah… segala puji hanya bagi Allah hanya itu yang mampu aku ucapkan
manakala melihat kembali apa yang telah aku lakukan selama ini. Semua atas
kehendak Allah’ Pra kata H. Didit Hari Purnomo yang
ditulis di buku Bukan Alang-Alang Biasa
miliknya.
“Alang-alang
itu pendidikan luar sekolah. Non formal. Karena bersifat sosial jadi siapapun
bisa jadi relawan disini. Pembelajarannya senin, selasa, kamis, dan jumat dari
jam 16.00-17.30.” Tutur laki-laki yang biasa disapa om Didit Hape. Sanggar
Alang-alang ini berdiri sejak 14 April 1999 dengan jumlah anak didik kurang lebih 150 anak yang terbagi menjadi
dua tempat yaitu di belakang terminal Joyoboyo dan perkampungan pemulung di daerah Dupak
Surabaya yang biasa disebut kampung seribu satu malam.
Anak
negeri yang diasuh Didit hape ini memang rata-rata berasal dari anak jalanan
mengingat lingkungan yang dekat terminal
Joyoboyo. Hati Didit Hape tersentuh
saat melihat anak-anak jalanan
ini berkeliaran di jalan, padahal seharusnya mereka sibuk menempuh pendidikan.
Memang sebelum Sanggar Alang-Alang berdiri hampir 99% anak asuh Didit Hape ini
tidak bersekolah. Mereka paling susah saat disuruh menempuh pendidikan.
Alhamdulillah, dengan usaha, kesabaran, ikhlas, kerja keras, dan doa hampir 99%
dari mereka kini menempuh bangku pendidikan. Ya syukur selalu terucap dari
laki-laki yang pernah menjadi wartawan senior di TVRI Jakarta dan TVRI Surabaya.
Kiprah
Didit Hape di dunia jurnalistik memang tidak di ragukan lagi. Jiwa lapangannya
sudah melekat erat didirinya. Menurut beliau, jurnalis kreatif harus senantiasa berada di lapangan, bukan di
belakang meja. Wawancara langsung, tatap muka, bukan via telepon. Harus jadi
saksi atas peristiwa penting di masyarakat. Termasuk saat Didit Hape ini di beri
tugas meliput di bidang sosial di daerah Joyoboyo. Karena seringnya berkunjung
dan mengamati anak-anak jalanan ini, Didit Hape mendirikan Sanggar Alang-alang
sebagai wadah mereka mendapat pendidikan. Pendidikan yang di ajarkan di Sanggar
Alang-alang ini meliputi pendidikan seni budaya dan agama.
Melalui
pendekatan dan pengajaran di Sanggar Alang-alang, anak-anak jalanan yang terkenal
kotor, jorok, kumuh, susah diatur, suka mencopet kini menjadi anak-anak yang
mengenal etika, estetika, norma, dan agama. Begitulah cara Didit Hape mengubah
anak jalanan menjadi anak yang normatif. Di sanggar ini semua biaya pendidikan
di gratiskan. Setiap anak didik diberi seragam, kaos, dan baju muslim gratis.
Di sanggar ini di bagi menjadi tiga kelas yaitu kelas Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD), Pendidikan Anak Usia Sekolah (PAUS), dan Pendidikan Anak Usia Remaja
(PAUR). Batas usia PAUR yaitu 18 tahun. Jika usia sudah menginjak 18 tahun,
mereka diwajibkan menyudahi pendidikan di sanggar ini.
Bersama
Budha Ersa istri tercinta, Didit Hape mengajarkan life skill kepada anak-anak
dhuafa dan merintis sanggar alang-alang hingga berkembang pesat seperti saat
ini. Anak didik di Sanggar Alang-alang ini juga tak lagi diragukan, beberapa
dari mereka seperti Klantink, Adi Hartono (juara tinju nasional), Siti Nur
Qomariyah (penyanyi idola cilik), Nur Wahid Hidayat (penyanyi idola cilik), dan
deretan nama membanggakan lainnya adalah orang-orang berhasil yang lahir berkat sanggar alang-alang.
Keberhasilan
yang dicapai tak hanya di dalam negeri, melainkan hingga kancah internasional.
Beberapa dari mereka pernah mengikuti pertandingan sepak bola piala dunia antar
anak jalanan tingkat internasional yang diadakan di Brazil dengan peserta dari
19 negara. Dan Alang-alang terpilih untuk mewakili Indonesia. “Saya aja nggak
pernah kesana. Anak didikku malah kesana duluan. Hehe.” Sahut Om Didit Hape
dengan guyonan khasnya.
“Menurut saya pak Didit Hape adalah tokoh
masyarakat sekaligus sosok warga kota Surabaya yang patut di teladani.
Sedangkan Sanggar Alang-alang adalah lembaga sosial yang sangat baik
kinerjanya. Itulah sebabnya akhir tahun 2013 yang lalu saya menganugerahkan sosial
award. Semoga sukses selalu untuk pak Didit Hape dan Sanggar Alang-alang.” Kata
Tri Rismaharini selaku Walikota Surabaya yang menganggap Didit Hape ini bisa
mengurangi jumlah anak jalanan di kota karena adanya Sanggar Alang-alang.
Allah
menciptakan segala sesuatu pasti ada alasannya. Termasuk alang-alang, tumbuh
liar di musim hujan dan bisa terbakar dengan sendirinya di musim kemarau. Namun
jika alang-alang berada di tangan seniman, semua kesia-siaan itu menjadi
mustahil. Alang-alang yang semak belukar bisa berubah menjadi berbagai
kerajinan dan juga dapat di olah menjadi atap nan sejuk untuk berteduh. Seperti
hal nya anak jalanan ini, kebanyakan dari mereka susah diatur, liar, jorok,
mengganggu masyarakat namun jika di pegang, di bina, dan di didik oleh
tangan-tangan peduli akan tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak kebanggaan
negeri.

Komentar