Dunia Memandang Wanita
Makin dibaca, memang menyedihkan dan mengerikan nasib wanita sepanjang sejarah dunia. Tak pandang tempat juga zaman, wanita lebih sering dianggap objek daripada manusia.
Peradaban Yunani Kuno membolehkan wanita diperjualbelikan layaknya budak, tidak memiliki hak sipil dan juga hak waris. Hampir-hampir bagi lelaki dalam peradaban Yunani Kuno, posisi wanita tak jauh dari sekedar pemuas nafsu lelaki saja.
Dalam buku-buku dan mitologi-mitologi Yunani, dapat kita baca bahwa seringkali dewa-dewa berselingkuh dan memiliki anak di luar nikah. Dewa-dewa gemar berbuat mesum, hingga lahirlah demigod, manusia setengah dewa, seperti Hercules, Perseus, Theseus, atau Gilgamesh.
Nah, bila Zeus saja sebagai dewa tertinggi gemar melakukan hubungan di luar nikah, yang terbukti dengan banyaknya “anak manusia” darinya. Wajar saja jika itu menjadi inspirasi bagi lelaki Yunani Kuno untuk melakukan hal yang sama.
Pelacuran Adalah Hal yang Wajar
Pelacuran adalah hal yang wajar, menjadi bagian kehidupan sosial di Yunani Kuno. Intrik-intrik politik pun banyak melibatkan wanita sebagai korban dari suami yang ingin meraih posisi yang lebih tinggi dengan mengumpankan istri sebagai bayaran.
Lalu Bagaimana dengan Romawi?
Satu akar satu pikiran. Seperti yang kita ketahui, filosofi hidup yang mendasari peradaban Romawi tidak jauh dari filososfi Yunani. Hanya lebih sadis, lebih tertata, dan lebih ekspansif.
Zeus berganti nama menjadi Jupiter dengan penggambaran yang lebih maskulin dengan sikap selalu siap perang. Poseidon sekarang bernama Neptunus. Itu saja yang berubah, pandangan terhadap wanitanya tetap sama. Wanita belum naik kelas di peradaban Romawi.
Kisah selingkuh para dewa tetap menghiasi mitologi Romawi. Kita mengenal bahwa Vulcan (Hephaestus) yang diceritakan berwajah jelek, nasibnya pun jelek karena Venus (Aphrodite) yang cantik jelita memilih Mars (Ares) sang Dewa Perang yang lebih macho, atau bahkan berselingkuh dengan Dewa Pan yang berwajah kambing.
Kisah selingkuh, hubungan di luar nikah, membentuk pandangan Romawi Kuno tentang siapa wanita. Bagi mereka, wanita hanya objek seksual untuk dinikmati, bukan dikasihi.
Coba tengok hasil-hasil karya seni Yunani – Romawi Kuno, jelaslah bagi mereka wanita hanya penting untuk dieksploitasi secara seksual. Bahkan dalam pandangan Romawi, seorang lelaki tidak bersalah jika membunuh istri dan anaknya, bila ia tak suka dengan perbuatan istri dan anaknya. Pada 550 M, Kaisar Justinian sampai mengeluarkan aturan pelarangan membunuh istri dan anak. Solusinya, karena tak bisa dibunuh, ya akhirnya dijual saja di pasar sebagai budak.
Apapun yang didapatkan wanita di rumah tangga, tiada hak untuk protes dan meminta pisah. Dalil lelaki Romawi Kuno adalah Nunquam Exvitus Muliedrus, bahwa ikatan yang diberikan kepada wanita tersebut selamanya tak boleh dilepaskan.
Tradisi di India dalam Memandang Wanita
Tradisi Hindu mengenal Sati, sebuah prosesi membakar diri bagi janda yang ditinggal mati suaminya. Sederhananya, saat suaminya meninggal dan dibakar, berakhirlah hak hidupnya sebagai bagian dari loyalitas.
Di peradaban cina-cina kuno, wanita sama saja penempatannya sebagai warga kelas dua. Amat wajar anggapan bahwa wanita hanya diciptakan untuk melayani lelaki. Belajar dan menjadi cendekiawan hanya hak lelaki.
Demikian nasib wanita ditinjau dari segi peradaban. Mungkin di antara peradaban yang dahulu dikenal dunia, hanya wanita mesir yang berstatus bangsawan yang sedikit menghirup hak sebagai manusia. Setidaknya mereka mengenal Nefertiti, Neferteri, Hatshepsut, dan Cleopatra sebagai wanita yang memegang tampuk kekuasaan.
Kita Sepakat Bahwa Agama Diturunkan untuk Kebaikan
Tentu kebaikan ini tidak dikhususkan untuk pria semata, namun juga bagi kaum wanita. Tapi sejarah mencatat sebaliknya. Tafsir dari teks-teks kitab suci dan pendapat-pendapat agamawan pada agama Yahudi dan Nasrani justru berujung pada diskriminasi wanita.
Dari sini kita juga bisa melihat pengaruh yang begitu besar dari peradaban yang telah ada sebelumnya kepada penulisan Talmud dan Alkitab yang memang ditulis oleh manusia yang tentu dipengaruhi kondisi sekitarnya.
Yahudi konservatif menganggap wanita tidak lebih dari pembantu yang tak berhak akan hak waris. Bahkan, jika hanya punya anak perempuan, ayahnya berhak menjualnya.
Dalam Talmud Menahoth 43b-44a tertulis bahwa, “seorang lelaki Yahudi diwajibkan membaca doa berikut setiap hari: ‘Terimakasih Tuhan! Karena tidak menjadikanku seorang kafir, seorang wanita, atau budak berlian.’”
Juga tertulis Kethuboth 11b, “Bila lelaki Yahudi yang telah dewasa bersetubuh dengan anak perempuan, itu tidak mengapa.”
Nudzubillah min dzalik!!!
Dikutip dari buku Yuk, Berhijab! Penulis Felix Y. Siauw


Komentar