Siapkan Dirimu Sebelum Melangkah
Membaca judul diatas, terbesit pertanyaan menyiapkan apa ya? Dan dalam rangka apa? Yup, seminar di akhir tahun yang diadakan YDSF ini sangat spesial. Bertempat di Aula Soetandyo Gedung C FISIP Universitas Airlangga Surabaya, 13 Desember 2015 mulai pukul 09.00 WIB hingga 12.00 WIB, menghadirkan Suhadi Fajaray (Master Trainer Powerful Education, Konsultan Pendidikan dan Penulis Buku Parenting diantaranya: Character Building With Love dan Ada Cinta di Dada Ayah). Acara ini langka terjadi, sebab berkaitan dengan persiapan untuk melangkah menuju jenjang menngenapkan separuh dien, yaitu BERSIAP SEBELUM MELANGKAH MENUJU PERNIKAHAN.
Sebelum dimulai, peserta sudah memenuhi tempat yang tersedia. Mereka semua antusias untuk menerima paparan materi dari pembicara. Apalagi yang di bahas bab pernikahan, sesuatu yang bisa dianggap seram dan menakutkan bagi yang belum pernah memasukinya. Paling tidak seminar ini bisa membuka wawasan untuk memantaskan diri pribadi dalam menyongsong kehidupan pasca nikah dengan optimis.
Dalam sambutan awal, Bapak Arif Prasojo mewakili pihak Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) menyampaikan bahwa YDSF peduli pada generasi muda, dalam hal ini mereka yang akan menyiapkan diri untuk menjadi suami-istri, calon ayah dan ibu, sebagai pendidik awal yang akan melahirkan generasi pemimpin di kemudian hari. Fakta yang banyak terjadi di masyarakat pada tahun-tahun awal mendapat kenyamanan seperti yang disyariatkan Allah SWT.
Dan bagi yang sudah berkeluarga, akan mendapat pencerahan kembali. Kegiatan ini sebagai salah satu bentuk layanan donatur, karena usia donatur YDSF mulai anak-anak, remaja, orang tua hingga usia 70 tahun.
Bersiap Membangun Jalan Cinta
Sebagai kata pembuka, Ustad Suhadi Fajaray mengajak peserta yang hadir (lebih dari 100 orang) yang sebagian besar masih JOMBLO untuk senantiasa bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya berupa dua kaki yang sehat yang dapat melangkah mempersiapkan jalan-jalan kebaikan baik masa pra nikah atau setalah menikah. Juga bersyukur karena tidak tersungkur pada hidup yang kufur. Juga harus selalu bersabar supaya pintu-pintu surga terbuka lebar.
Meniti sebuah pernikahan, harus ada bekal awal yang sangat penting, utamanya bagi seorang pria, adalah KEMANDIRIAN, terutama mandiri secara finansial. Sudah menikah jangan selalu bergantung pada subsudi orang tua. Pembicara mencontohkan pada diri beliau yang sudah berani menikah di usia 23 tahun, dan sang istri baru semester 8. Wow!
Pembagian usia kemandirian:
0-7 tahun : didiklah anak seperti raja
7-14 tahun : didiklah anak seperti tawanan yang disiplin
14-21 tahun : didiklah anak seperti teman/sahabat
21 tahun : saatnya usia mandiri, tidak perlu meminta apapun pada orang tua. Saatnya sudah mandiri secara finansial.
Alkisah di zaman Umar bin Abdul Azis, khalifah bani Umayyah yang merupakan cicit dari Umar bin Khattab menjadi pemimpin selama dua tahun, yang membuat penduduknya tidak mau menerima zakat karena termasuk negara kaya. Hebatnya Umar bin Abdul Azis mempunyai seorang penasehat yang masih berumur 11 tahun. Penasehat presiden yang masih berumur 11 tahun, apa nggak salah? Kita bandingkan dengan anak sekarang yang berumur 11 tahun, bisa apa? Paling-paling jago ngegame di gadget. Siapakah dia? Dia adalah anak dari Husein cucu Ali bin Abu Tholib, cicit Rasulullah Muhammad SAW. Subhanallah, Allahu akbar.
Kembali ke pokok bahasan. Dari banyak contoh kasus yang terjadi di masyrakat kita. Pernikahan di gelar dengan pesta menggelegar dan mewah, tetapi usia pernikahan hanya bertahan tidak lebih dari 3 tahun. Apa penyebabnya?
“KARENA PERNIKAHAN DI BANGUN TIDAK PAKAI ILMU”
Karena kalau di bangun dengan:
1. Modal nikah
2. Sudah kerja
“BERSIAPLAH KELLUARGA ITU AKAN ADA DI AMBANG MASALAH, KARENA TIDAK ADA VISI/ILMU”
Jangan mempercayai ilmu yang berkembang di masyarakat, seperti:
“Aku ingin engkau mencintaiku sebagaimana aku mencintaimu”
Hal diatas akan membuat kita sedih berkepanjangan, karena tabiat laki-laki dan perempuan itu berbeda. Dalam ilmu psikologi mengatakan bahwa perempuan mampu memproduksi 3000 kata per hari, jika kurang dari itu perempuan akan gelisah. Perempuan cenderung untuk mencari teman atau pihak lain untuk berbicara. Menumpahkan segala unek-unek dan permasalahannya. Bila mendapati masalah, awalnya kena di hati, untuk selanjutnya mencari pihak lain untuk mencurahkan isi hati, dan seiring waktu akan selesai dengan sendirinya. Perumpamaan ini bagai obat nyamuk, kalau perempuan dari dalam keluar, dan laki-laki dari luar kedalam.
Sebaliknya, seorang pria cenderung diam, tidak banyak cakap (omong). Jika mendapat masalah dari luar, akan di bawa ke dalam (hati) dengan diam, dan akan selesai dengan sendirinya. Dan sebgai pria, engkau harus pintar mendengarkan istrimu.
Guru terbaik ada pada Rasulullah SAW, saat mendapat wahyu pertama, kondisi fisik dan psikis Rasulullah gemetar, berkeringat hebat. Apa yang dilakukan bunda Khadijah? Beliau menyelimuti tubuh Rasulullah, dan setelah tenang, beliau bercerita. Bagaimana jadinya jika bunda Khadijah berlaku seperti perempuan yang harus keluarkan 3000 kosa kata? Cerewet dan bertanya ini itu? Bisa kita pikir sendiri.
Untuk kaum laki-laki juga harus mencontoh tokoh-tokoh hebat dalam islam tentang pernikahan, diantaranya adalah:
Salman Al Farisi, karena masih sendiri, meminta sahabatnya Abu Darda bertindak sebagai wakil untuk melamar seorang muslimah. Setelah diutarakan maksud baik itu kepada bapak/wali sang perempuan, ternyata jawabannya di luar dugaan dan maksud awal. Karena putri dari bapak tersebut mau menerima lamaran Abu Darda, bukan Salman Al Farisi.
Apa yang dilakukan Salman Al Farisi? Marahkah ia pada sahabatnya? Subhanallah, ternyata Salman Al Farisi bertakbir keras dan mengikhlaskan sahabatnya Abu Darda untuk menikah dengan gadis yang semula ingin dilamarnya.
Dari kisah ini ada pesan bijak yang disampaikan “Pernikahan tidak diwajibkan kalian menunggu, jika ada kesempatan segera ambil. Dan jika engkau tidak beranii, persilahkan temanmu untuk menikah lebih dulu.”
Seorang budak bernama Mubarok, dia diberi tugas oleh tuannya untuk menjaga kebun anggur yang sangat luas. Suatu saat tuan tersebut meminta Mubarok mengambilkannya sebuah anggur manis. Oleh Mubarok awalnya diambilkannya sebuah anggur yang lumer, dikiranya anggur itu manis. Tuannya merasakan buah itu hampir busuk. Selanjutnya di ambil lagi sebuah anggur yang keras dan mengkal, ternyata masih mentah. Tuan itu bertanya pada Mubarok “apa kau tak bisa memilihkan anggur yang manis?”, dengan sopan Mubarok menjawab “saya hanya ditugasi menjaga kebun anggur itu, bukan untuk mencicipinya.” Kejujuran itu membawa nasib baik menghampiri Mubarok, ia akhirnya dinikahkan dengan putri tuan pemilik kebun anggur itu.
Keluarga Visioner
Dalam mewujudkan keluarga visioner harus mempunyai,
1. Niat
Niat untuk menjauh dari maksiat. Visi bermula dari niat/softaware, dimulai dari pra nikah, saat menikah dan setelah menikah harus tetap taat pada Allah.
Kita harus menjauhkan diri dari hal-hal yang di benci Allah selama proses pra nikah hingga menikah. Sebagai contoh, prosesi awal penentuan tanggal pernikahan yang banyak mencampuradukkan dengan hitung-hitungan weton yang misal ketemu 25 maka ada kepercayaan salah satu pihak akan mengalami kematian.
Menikahlah engkau atas dasar agama sebagaimana hadist nabi:
“Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara. Karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung.”
Perempuan yang shalihah itu menyejukkan jiwa. Libatkan Allah selalu dalam doa-doa memohon jodoh terbaik.
Dalam surat Al-Mukmin ayat 60 Allah berfirman: “berdoalah (mintalah) kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.”
Meminta dan memohon ini haruslah denga keyakinan penuh, jangan setengah-setengah, atau main-main.
Janganlah mencari laki-laki dan perempuan yang sempurna, karena memang keduanya diciptakan tidak sempurna, dipadukan dalam pernikahan untuk saling menyempurnakan.
2. Aksi
Berkeluarga harus mengacu pada tuntunan agama. Mulai dari resepsi pernikahan hingga menjalani pernikahan itu sendiri. Bahkan ketika sudah memiliki buah hati. Tanamkan visi sejak awal pada anak-anakmu. Jangan turuti mimpi yang tidak realistis. Karena visi dan mimpi itu jelas berbeda. Anak muda sekarang ini banyak hidup dalam dunia fiksi.
Suatu waktu dikisahkan seorang Umar bin Khatab yang keras dan galak, beliau diam saja saat dimarahi istrinya. Apa sebabnya? Beliau menjawab, karena dialah (istri) yang memasakkan makanan untukku, dia yang mencucikan bajuku, dan dia yang mengurus anak-anakku serta menjaga syahwatku.
Bila dianalogikan dengan filosofi jawa apa yang diutarakan Umar bin Khatab adalah dapur, sumur, dan kasur. Dari 3 hal inilah yang membuat seorang Umar bin Khatab yang amat tegas bisa toleran dengan istrinya.
Pesan bijaknya: jangan engkau merasa hina bila 3 hal tersebut diatas dipercayakan kepadamu (perempuan). Karena hal-hal tersebutlah yang membuat suamimu toleran pada kekuranganmu. Bila urusan dapur diserahkan kepada catering, sumur diserahkan pada laudry, maka bersiaplah urusan kasur akan diserahkan pada outsoursing?? Nah loh????.
Sesi terakhir adalah tanya jawab, diantaranya adalah:
1. Bagaimana cara mengetahui kualitas agama calon kita baik?
Jawab; mau menikahi seseorang lihat agama ayahnya. Lihat juga gelagatnya dan sikapnya kepada anak kecil. Karena dia adalah calon ayah dari anak-anak kita. Tanyakan juga bagaimana bila dia bersikap pada ibunya, karena seseorang yang memuliakan ibunya, maka dia akan memuliakan istrinya.
2. Bagaimana kalau mau menikah harus menunggu kakaknya dulu menikah (budaya nglangkahi)??
Jawab: Ya harus kita sadari bahwa dakwah islam memang masih sampai disini. Sudah jadi tugas kita untuk mendakwahkan sesuatu yang sesuai tuntunan agama pada saudara-saudara kita dengan santun. Jangan berprinsip ‘ah itu nggak terjadi di keluargaku kok, ya nggak masalah’. Karena “barang siapa yang bicara dengan kebatilan maka itu syaitan yang berbicara, dan siapa yang diam itu adalah syaitan yang bisu.”
Dalam satu kisah ada seorang yang mengadukan anaknya kepada Rasulullah atas perilaku anaknya, ternyata anak ini tidak terima karena: Ayahnya tidak mengajarkan ilmu yang baik, ayahnya tidak memberi nama yang baik, anak ini diberi nama “Si Hitam’, dan ayahnya tidak mengajarkan Al-Quran.
Maka tidak hanya anak yang berbuat durhaka kepada ayah, tetapi ayah sebagai orang tua juga bisa bersikap durhaka terhadap anak dengan tiga parameter diatas.
Dalam Al-Quran ada 17 metode dalam mendidik anak, diantaranya adalah 14 dialog antara ayah dan anak, 2 dialog antara ibu dan anak, dan 1 dialog anonym.
Kesimpulannya adalah harusnya yang dominan dalam mendidik anak adalah ayah. Karena penyebab kerusakan anak adalah ayahnya. Si anak lapar akan peran ayah.
Harus diingat:
Tidak setiap lelaki diberi kesempatan Allah untuk menjadi suami, demikian juga tidak setiap pria dewasa diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi ayah. Juga tidak setiap remaja putri diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi istri, tidak setiap perempuan diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi ibu. Tidak setiap ibu dan ayah dicintai oleh anak-anaknya. Panduan itu semua adalah Al-Quran dan Hadis.
QS. Lukman : 13 “Dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya, hai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
Dalam sesi penutup Ustad Suhadi Fajaray memberikan doorprize beberapa buku kepada peserta yang bisa menjawab pertanyaan beliau, ada 5 kitab dan 2 buku karangan beliau yang dibagikan kepada peserta.
Web resmi Ustad Suhadi Fajaray: www.motivasipendidikan.com
Sumber: www.ceritadinding.com, www.sulistyoriniberbagi.com
Ditulis oleh panitia penyelenggara (YDSF CREW)
Sebelum dimulai, peserta sudah memenuhi tempat yang tersedia. Mereka semua antusias untuk menerima paparan materi dari pembicara. Apalagi yang di bahas bab pernikahan, sesuatu yang bisa dianggap seram dan menakutkan bagi yang belum pernah memasukinya. Paling tidak seminar ini bisa membuka wawasan untuk memantaskan diri pribadi dalam menyongsong kehidupan pasca nikah dengan optimis.
Dalam sambutan awal, Bapak Arif Prasojo mewakili pihak Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) menyampaikan bahwa YDSF peduli pada generasi muda, dalam hal ini mereka yang akan menyiapkan diri untuk menjadi suami-istri, calon ayah dan ibu, sebagai pendidik awal yang akan melahirkan generasi pemimpin di kemudian hari. Fakta yang banyak terjadi di masyarakat pada tahun-tahun awal mendapat kenyamanan seperti yang disyariatkan Allah SWT.
Dan bagi yang sudah berkeluarga, akan mendapat pencerahan kembali. Kegiatan ini sebagai salah satu bentuk layanan donatur, karena usia donatur YDSF mulai anak-anak, remaja, orang tua hingga usia 70 tahun.
Bersiap Membangun Jalan Cinta
Sebagai kata pembuka, Ustad Suhadi Fajaray mengajak peserta yang hadir (lebih dari 100 orang) yang sebagian besar masih JOMBLO untuk senantiasa bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya berupa dua kaki yang sehat yang dapat melangkah mempersiapkan jalan-jalan kebaikan baik masa pra nikah atau setalah menikah. Juga bersyukur karena tidak tersungkur pada hidup yang kufur. Juga harus selalu bersabar supaya pintu-pintu surga terbuka lebar.
Meniti sebuah pernikahan, harus ada bekal awal yang sangat penting, utamanya bagi seorang pria, adalah KEMANDIRIAN, terutama mandiri secara finansial. Sudah menikah jangan selalu bergantung pada subsudi orang tua. Pembicara mencontohkan pada diri beliau yang sudah berani menikah di usia 23 tahun, dan sang istri baru semester 8. Wow!
Pembagian usia kemandirian:
0-7 tahun : didiklah anak seperti raja
7-14 tahun : didiklah anak seperti tawanan yang disiplin
14-21 tahun : didiklah anak seperti teman/sahabat
21 tahun : saatnya usia mandiri, tidak perlu meminta apapun pada orang tua. Saatnya sudah mandiri secara finansial.
Alkisah di zaman Umar bin Abdul Azis, khalifah bani Umayyah yang merupakan cicit dari Umar bin Khattab menjadi pemimpin selama dua tahun, yang membuat penduduknya tidak mau menerima zakat karena termasuk negara kaya. Hebatnya Umar bin Abdul Azis mempunyai seorang penasehat yang masih berumur 11 tahun. Penasehat presiden yang masih berumur 11 tahun, apa nggak salah? Kita bandingkan dengan anak sekarang yang berumur 11 tahun, bisa apa? Paling-paling jago ngegame di gadget. Siapakah dia? Dia adalah anak dari Husein cucu Ali bin Abu Tholib, cicit Rasulullah Muhammad SAW. Subhanallah, Allahu akbar.
Kembali ke pokok bahasan. Dari banyak contoh kasus yang terjadi di masyrakat kita. Pernikahan di gelar dengan pesta menggelegar dan mewah, tetapi usia pernikahan hanya bertahan tidak lebih dari 3 tahun. Apa penyebabnya?
“KARENA PERNIKAHAN DI BANGUN TIDAK PAKAI ILMU”
Karena kalau di bangun dengan:
1. Modal nikah
2. Sudah kerja
“BERSIAPLAH KELLUARGA ITU AKAN ADA DI AMBANG MASALAH, KARENA TIDAK ADA VISI/ILMU”
Jangan mempercayai ilmu yang berkembang di masyarakat, seperti:
“Aku ingin engkau mencintaiku sebagaimana aku mencintaimu”
Hal diatas akan membuat kita sedih berkepanjangan, karena tabiat laki-laki dan perempuan itu berbeda. Dalam ilmu psikologi mengatakan bahwa perempuan mampu memproduksi 3000 kata per hari, jika kurang dari itu perempuan akan gelisah. Perempuan cenderung untuk mencari teman atau pihak lain untuk berbicara. Menumpahkan segala unek-unek dan permasalahannya. Bila mendapati masalah, awalnya kena di hati, untuk selanjutnya mencari pihak lain untuk mencurahkan isi hati, dan seiring waktu akan selesai dengan sendirinya. Perumpamaan ini bagai obat nyamuk, kalau perempuan dari dalam keluar, dan laki-laki dari luar kedalam.
Sebaliknya, seorang pria cenderung diam, tidak banyak cakap (omong). Jika mendapat masalah dari luar, akan di bawa ke dalam (hati) dengan diam, dan akan selesai dengan sendirinya. Dan sebgai pria, engkau harus pintar mendengarkan istrimu.
Guru terbaik ada pada Rasulullah SAW, saat mendapat wahyu pertama, kondisi fisik dan psikis Rasulullah gemetar, berkeringat hebat. Apa yang dilakukan bunda Khadijah? Beliau menyelimuti tubuh Rasulullah, dan setelah tenang, beliau bercerita. Bagaimana jadinya jika bunda Khadijah berlaku seperti perempuan yang harus keluarkan 3000 kosa kata? Cerewet dan bertanya ini itu? Bisa kita pikir sendiri.
Untuk kaum laki-laki juga harus mencontoh tokoh-tokoh hebat dalam islam tentang pernikahan, diantaranya adalah:
Salman Al Farisi, karena masih sendiri, meminta sahabatnya Abu Darda bertindak sebagai wakil untuk melamar seorang muslimah. Setelah diutarakan maksud baik itu kepada bapak/wali sang perempuan, ternyata jawabannya di luar dugaan dan maksud awal. Karena putri dari bapak tersebut mau menerima lamaran Abu Darda, bukan Salman Al Farisi.
Apa yang dilakukan Salman Al Farisi? Marahkah ia pada sahabatnya? Subhanallah, ternyata Salman Al Farisi bertakbir keras dan mengikhlaskan sahabatnya Abu Darda untuk menikah dengan gadis yang semula ingin dilamarnya.
Dari kisah ini ada pesan bijak yang disampaikan “Pernikahan tidak diwajibkan kalian menunggu, jika ada kesempatan segera ambil. Dan jika engkau tidak beranii, persilahkan temanmu untuk menikah lebih dulu.”
Seorang budak bernama Mubarok, dia diberi tugas oleh tuannya untuk menjaga kebun anggur yang sangat luas. Suatu saat tuan tersebut meminta Mubarok mengambilkannya sebuah anggur manis. Oleh Mubarok awalnya diambilkannya sebuah anggur yang lumer, dikiranya anggur itu manis. Tuannya merasakan buah itu hampir busuk. Selanjutnya di ambil lagi sebuah anggur yang keras dan mengkal, ternyata masih mentah. Tuan itu bertanya pada Mubarok “apa kau tak bisa memilihkan anggur yang manis?”, dengan sopan Mubarok menjawab “saya hanya ditugasi menjaga kebun anggur itu, bukan untuk mencicipinya.” Kejujuran itu membawa nasib baik menghampiri Mubarok, ia akhirnya dinikahkan dengan putri tuan pemilik kebun anggur itu.
Keluarga Visioner
Dalam mewujudkan keluarga visioner harus mempunyai,
1. Niat
Niat untuk menjauh dari maksiat. Visi bermula dari niat/softaware, dimulai dari pra nikah, saat menikah dan setelah menikah harus tetap taat pada Allah.
Kita harus menjauhkan diri dari hal-hal yang di benci Allah selama proses pra nikah hingga menikah. Sebagai contoh, prosesi awal penentuan tanggal pernikahan yang banyak mencampuradukkan dengan hitung-hitungan weton yang misal ketemu 25 maka ada kepercayaan salah satu pihak akan mengalami kematian.
Menikahlah engkau atas dasar agama sebagaimana hadist nabi:
“Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara. Karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung.”
Perempuan yang shalihah itu menyejukkan jiwa. Libatkan Allah selalu dalam doa-doa memohon jodoh terbaik.
Dalam surat Al-Mukmin ayat 60 Allah berfirman: “berdoalah (mintalah) kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.”
Meminta dan memohon ini haruslah denga keyakinan penuh, jangan setengah-setengah, atau main-main.
Janganlah mencari laki-laki dan perempuan yang sempurna, karena memang keduanya diciptakan tidak sempurna, dipadukan dalam pernikahan untuk saling menyempurnakan.
2. Aksi
Berkeluarga harus mengacu pada tuntunan agama. Mulai dari resepsi pernikahan hingga menjalani pernikahan itu sendiri. Bahkan ketika sudah memiliki buah hati. Tanamkan visi sejak awal pada anak-anakmu. Jangan turuti mimpi yang tidak realistis. Karena visi dan mimpi itu jelas berbeda. Anak muda sekarang ini banyak hidup dalam dunia fiksi.
Suatu waktu dikisahkan seorang Umar bin Khatab yang keras dan galak, beliau diam saja saat dimarahi istrinya. Apa sebabnya? Beliau menjawab, karena dialah (istri) yang memasakkan makanan untukku, dia yang mencucikan bajuku, dan dia yang mengurus anak-anakku serta menjaga syahwatku.
Bila dianalogikan dengan filosofi jawa apa yang diutarakan Umar bin Khatab adalah dapur, sumur, dan kasur. Dari 3 hal inilah yang membuat seorang Umar bin Khatab yang amat tegas bisa toleran dengan istrinya.
Pesan bijaknya: jangan engkau merasa hina bila 3 hal tersebut diatas dipercayakan kepadamu (perempuan). Karena hal-hal tersebutlah yang membuat suamimu toleran pada kekuranganmu. Bila urusan dapur diserahkan kepada catering, sumur diserahkan pada laudry, maka bersiaplah urusan kasur akan diserahkan pada outsoursing?? Nah loh????.
Sesi terakhir adalah tanya jawab, diantaranya adalah:
1. Bagaimana cara mengetahui kualitas agama calon kita baik?
Jawab; mau menikahi seseorang lihat agama ayahnya. Lihat juga gelagatnya dan sikapnya kepada anak kecil. Karena dia adalah calon ayah dari anak-anak kita. Tanyakan juga bagaimana bila dia bersikap pada ibunya, karena seseorang yang memuliakan ibunya, maka dia akan memuliakan istrinya.
2. Bagaimana kalau mau menikah harus menunggu kakaknya dulu menikah (budaya nglangkahi)??
Jawab: Ya harus kita sadari bahwa dakwah islam memang masih sampai disini. Sudah jadi tugas kita untuk mendakwahkan sesuatu yang sesuai tuntunan agama pada saudara-saudara kita dengan santun. Jangan berprinsip ‘ah itu nggak terjadi di keluargaku kok, ya nggak masalah’. Karena “barang siapa yang bicara dengan kebatilan maka itu syaitan yang berbicara, dan siapa yang diam itu adalah syaitan yang bisu.”
Dalam satu kisah ada seorang yang mengadukan anaknya kepada Rasulullah atas perilaku anaknya, ternyata anak ini tidak terima karena: Ayahnya tidak mengajarkan ilmu yang baik, ayahnya tidak memberi nama yang baik, anak ini diberi nama “Si Hitam’, dan ayahnya tidak mengajarkan Al-Quran.
Maka tidak hanya anak yang berbuat durhaka kepada ayah, tetapi ayah sebagai orang tua juga bisa bersikap durhaka terhadap anak dengan tiga parameter diatas.
Dalam Al-Quran ada 17 metode dalam mendidik anak, diantaranya adalah 14 dialog antara ayah dan anak, 2 dialog antara ibu dan anak, dan 1 dialog anonym.
Kesimpulannya adalah harusnya yang dominan dalam mendidik anak adalah ayah. Karena penyebab kerusakan anak adalah ayahnya. Si anak lapar akan peran ayah.
Harus diingat:
Tidak setiap lelaki diberi kesempatan Allah untuk menjadi suami, demikian juga tidak setiap pria dewasa diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi ayah. Juga tidak setiap remaja putri diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi istri, tidak setiap perempuan diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi ibu. Tidak setiap ibu dan ayah dicintai oleh anak-anaknya. Panduan itu semua adalah Al-Quran dan Hadis.
QS. Lukman : 13 “Dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya, hai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
Dalam sesi penutup Ustad Suhadi Fajaray memberikan doorprize beberapa buku kepada peserta yang bisa menjawab pertanyaan beliau, ada 5 kitab dan 2 buku karangan beliau yang dibagikan kepada peserta.
Web resmi Ustad Suhadi Fajaray: www.motivasipendidikan.com
Sumber: www.ceritadinding.com, www.sulistyoriniberbagi.com
Ditulis oleh panitia penyelenggara (YDSF CREW)

Komentar